Sabtu, 27 April 2019

Cara Membuat Mie Nyemek Praktis


Katanya makan mi instan di warung itu lebih enak daripada bikinan sendiri. Kok, bisa? Ternyata cara mengolah mi instan di kedai dan warung memang berbeda. Apalagi ditambah 'pernak-pernik' seperti telur, sawi, dan kecap. Jadilah mie nyemek yang rasanya bikin ketagihan.

Sebenarnya Anda juga bisa membuat mie nyemek seenak bikinan warung. Toh, bahan-bahannya tak sulit didapat.

Berikut ini kami tampilkan cara membuat mie nyemek praktis dari mi goreng instan. Bumbu harus dicampur saat proses perebusan agar rasanya persis seperti di warung-warung mie nyemek.

Resep Mie Nyemek Instan Praktis

Bahan:

  • 1 bungkus Indomie goreng
  • 1 siung bawang putih
  • 1 sendok makan minyak goreng
  • 1 1/2 gelas air
  • 1/2 ikat sawi/caisim
  • 1 sendok teh kecap manis
  • 1 sendok teh saus sambal
  • 1 butir telur ayam
  • cabai rawit secukupnya (opsional)

Pelengkap:

  • Bawang goreng secukupnya
  • Bawang putih goreng secukupnya

Cara membuat mie nyemek:

  1. Potong sawi/caisim. Buang pangkal batang dan daun yang sudah tua, kemudian cuci bersih di air mengalir. Sisihkan terlebih dahulu.
  2. Panaskan sedikit minyak di penggorengan, kemudian masukkan telur yang sudah dikocok lepas. Buat orak-arik telur.
  3. Masukkan air di panci, kemudian masukkan sawi/caisim. Masak sampai sawi layu.
  4. Masukkan mi ke dalam panci, kemudian rebus sesuai petunjuk yang tertera di dalam kemasan.
  5. Tuang bumbu mi instan ke dalam rebusan, lalu tambahkan kecap manis dan saus.
  6. Jika mi sudah matang dan kuah menyusut, angkat panci rebusan dari kompor.
  7. Tuang mi, telur, sawi, dan air rebusan ke dalam mangkuk, kemudian aduk rata. Taburi dengan cabai rawit yang sudah diiris halus, bawang merah goreng, dan bawang putih goreng.

Sajikan mie nyemek instan selagi masih hangat. Boleh juga ditambahkan lauk. 

Sabtu, 20 April 2019

Jangan Salah Mengerti, Edukasi Seks pada Anak Tidak Melulu Soal Hubungan Intim


Pendidikan seks yang diberikan pada remaja selama ini disalahpahami hanya terkait hubungan intim saja. Padahal sejumlah hal mengenai bagaimana kita mengenal citra tubuh, serta soal kesehatan organ-organ tubuh juga termasuk di dalamnya dab penting untuk dipelajari.

Paradigma semacam itu dirasa penting bagi orangtua ketika memberikan edukasi seks pada anak.

"Kebanyakan dari kita atau orangtua salah kaprah. (Dianggap) kalau membicarakan tentang seks, justru mendorong anak untuk melakukan hubungan seksual," kata psikolog klinis Inez Kristanti.

Padahal, edukasi seksual sebenarnya sangatlah luas dan tidak terbatas soal hubungan seks saja. Contohnya, di usia 1 hingga 2 tahun, anak sudah bisa diajarkan tentang organ-organ seksual dengan penyebutan sesungguhnya.

"Memberikan pendidikan seksual itu tidak sama dengan mengajarkan anak aktivitas seksual yang tidak bertanggung jawab,"

Inez mengatakan, sebagai masyarakat yang hidup di tengah nilai-nilai agama dan budaya, kedua hal tersebut juga bisa dikaitkan ketika orangtua mengajarkan pendidikan seks pada anak.

"Jadi bukan hanya soal seksnya saja, tapi juga terkait dengan nilai-nilai apa. Anak itu perlu jelas nilai yang dia anut tentang seksualitas," Inez menambahkan.

Yang terpenting adalah, ketika bicara soal seks bersama dengan anak, orangtua tidak boleh menghakimi mereka.

"Kita membicarakannya pada anak juga tidak satu arah. Buatlah itu sebagai diskusi. Tidak masalah punya pandangan apapun, agama apapun, budaya apapun, membicarakan seks juga bisa kok di dalam koridor-koridor tersebut," ujar psikolog yang berpraktik di klinik Angsa Merah itu.

Sabtu, 13 April 2019

Wanita Usia Muda Memiliki Daya Tahan Influenza Jauh Lebih Kuat Dibanding Pria


Secara umum, wanita sebenarnya memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap flu dibanding pria. Namun sebuah penelitian mengungkap bahwa seiring bertambahnya usia dan menurunnya estrogen, daya tahan mereka ini bakal menurun.

Dilansir dari The Health Site, hasil penelitian ini diterbitkan pada jurnal npj Vaccines. Hasil didapat usai dilakukan evaluasi terhadap respons imun terhadap vaksin influenza 2009 H1N1 di antara 145 partisipan. Satu grup berusia antara 18-45 sedangkan lainnya 65 tahun ke atas.

"Kita butuh untuk mempertimbangkan formulasi vaksin buatan dan dosisnya berdasar jenis kelami penerima vaksin serta usia mereka," terang Sabra Klein, peneliti senior penelitian ini.

Usai menganalisis sejumlah penanda dari respons imun, peneliti menemukan bahwa secara rata-rata wanita pada usia lebih muda memiliki respons lebih kuat. Hasil ini diperoleh usai dibandingkan dengan pria dan wanita yang lebih tua.

Wanita muda ini memiliki tingkat protein daya tahan tiga kali lebih besar dibanding pada pria muda. Jumlah ini juga dua kali lipat lebih banyak dibanding pada wanita tua.

Pengukuran dari respons antibodi anti flu juga lebih tinggi pada wanita muda ketika dibandingkan pada pria dan wanita tua. Semakin muda wanita, maka semakin besar tingkat estradiol pada peredaran darah, salah satu estrogen penting dibanding pada wanita usia tua.

Serupa dengan wanita muda, pria muda memiliki tingkat aliran testosteron lebih tinggi pada darah dibanding pada pria tua. Respons vaksin yang lebih tinggi dihubungkan dengan estradiol semakin tinggi pada wanita muda dan semakin rendah testosteron pada pria yang lebih muda.

Klein mengungkap bahwa terdapat bukti adanya hubungan pada tingkat hormon berdasar jenis kelamin ini.

"Apa yang kita tunjukkan di sini adalah menyangkal bahwa estrogen yang muncul saat menopause mempengaruhi kekebalan tubuh wanita," terang Klein.

"Hingga sekarang, hal ini tidak diperhitungkan pada konteks vaksin. Temuan ini menjelaskan bahwa satu jenis vaksin tidak bisa melingkupi semua orang dengan sama. Mungkin pria seharusnya mendapat dosis lebih besar," tandasnya.

Sabtu, 06 April 2019

Remaja Indonesia Memiliki Pengetahuan yang Kurang Memadai Mengenai Penyakit Seksual


Remaja Indonesia memiliki pengetahuan yang kurang memadai mengenai penyakit menular seksual yang ada. Selama ini, mereka lebih banyak hanya mengetahui mengenai pencegahan HIV/AIDS saja.

Fakta ini terungkap dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Reckitt Benckiser lewat merek alat kontrasepsi Durex di lima kota besar yaitu Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya.

"95 persen menyatakan saya tahu tentang HIV. Tapi yang lain-lainnya seperti kandidiasis, apalagi herpes, apalagi sipilis dan gonorea, sangat sedikit dari mereka yang mengetahuinya," kata dokter Helena Rahayu Wonoadi, Direktur CSR Reckitt Benckiser.

Dari 500 remaja yang disurvei secara daring, hanya 33 persen yang mengetahui tentang gonorea, 38 persen yang tahu mengenai sipilis, 54 persen tahu tentang herpes atau HPV, dan 57 persen yang tahu tentang kandidiasis.

Terkait HIV sendiri, masih banyak remaja yang percaya akan informasi yang salahserta stigma tentang orang dengan HIV/AIDS atau ODHA.

Penelitian tersebut menemukan bahwa tiga dari 10 remaja masih berpikir bahwa melakukan aktivitas sehari-hari bersama ODHA bisa menularkan penyakit menular seksual. Selain itu, 55 persen dari peserta masih mengira bahwa HIV bisa menular lewat ciuman.

"Jadi mereka minim sekali pengetahuan ini," kata Helena.

Selain mengenai kurangnya pemahaman terkait penyakit menular seksual di luar HIV, studi ini juga menemukan bahwa pendidikan seks pada remaja di Indonesia mulai diperkenalkan di usia 14 sampai 18 tahun. Padahal, mereka sudah mengalami pubertas di usia 12 hingga 17 tahun sehingga hal ini tergolong cukup terlambat.